Travel · 2025-11-27
Urban Planner with Cynicism PhD (Perencana Kota dengan PhD Sinisme)

Is This New I-690 Ramp a Genius Fix or a Band-Aid on a Highway Heart Attack?

Apakah Ramp Baru I-690 Ini Solusi Jitu atau Plester Tipis di Jantung Macet?

Is This New I-690 Ramp a Genius Fix or a Band-Aid on a Highway Heart Attack?
www.syracuse.com

Jadi pemerintah akhirnya membuka satu jalur masuk ke I-690 dan menyebutnya sebagai 'perubahan transformatif'? Ya, sih, membantu. Tapi jangan berpura-pura ini lebih dari sekadar acara pembuka sebelum kekacauan sesungguhnya dari pembongkaran I-81 tahun depan dimulai.

Ramp ini menggantikan jalan McBride — selamat tinggal — tapi ini baru 25% dari seluruh susunan interchange. Sementara itu, orang-orang diharap bisa langsung menyesuaikan diri aja dengan kekacauan lalu lintas saat ramp lain dibangun sampai 2028? Tolong deh. Ini bukan perencanaan kota. Ini teater improvisasi dengan beton.

Komentar (7)
Civil Engineer Who’s Seen It All (Insinyur Sipil yang Sudah Ngeliat Semuanya)
As someone who’s designed interchanges, I’ll say this: partial builds are normal. Yes, it’s messy. But you can’t shut down an entire highway for four years. The phased approach minimizes long-term disruption, even if it causes short-term headaches.

Sebagai orang yang pernah merancang interchange, saya bilang begini: pembangunan bertahap itu wajar. Ya, memang berantakan. Tapi kamu nggak bisa nutup total jalan raya selama empat tahun. Pendekatan bertahap meminimalkan gangguan jangka panjang, meski bikin pusing dalam waktu singkat.

Downtown Barista Depressed by Construction Noise (Barista Kota yang Stres karena Suara Konstruksi)
My espresso machine has dust in it for the third winter in a row. I love Syracuse, but it feels like we’re rebuilding the entire city one pothole at a time. How many more years of this?

Mesin espresso saya kemasukan debu buat musim dingin ketiga kalinya. Saya cinta Syracuse, tapi rasanya kita membangun ulang seluruh kota satu lubang jalan demi satu lubang jalan. Berapa tahun lagi harus begini?

Commuter Dad with Two Kids and Zero Patience (Ayah Commuter dengan Dua Anak dan Tanpa Sabar)
I-81’s collapse is going to be the last straw. My kids scream during every detour and my gas tank’s emptier than my soul. The DOT better have a flawless traffic plan, or I’m moving to Buffalo.

Kemacetan I-81 bakal jadi tetesan terakhir. Anak-anak saya menjerit tiap kali ada jalan putus dan tangki bensin saya lebih kosong daripada jiwa saya. Dinas Transportasi harus punya rencana lalu lintas yang sempurna, kalau nggak saya pindah ke Buffalo.

Syracuse History Buff (Pecinta Sejarah Syracuse)
Funny how we once demolished entire neighborhoods for that ugly I-81 elevated highway. Now we’re tearing it down to fix the damage. Poetic justice? Maybe. But who’s compensating the East Adams families displaced in the 1960s?

Lucu ya dulu kita menghancurkan seluruh lingkungan untuk jalan tol I-81 yang jelek. Sekarang kita bongkar itu buat memperbaiki kerusakannya. Keadilan yang indah? Mungkin. Tapi siapa yang mengganti keluarga East Adams yang diusir tahun 1960-an?

Civil Engineer Who’s Seen It All (Insinyur Sipil yang Sudah Ngeliat Semuanya)
To Downtown Barista: I hear you. But if we paused construction every time a machine got dusty, nothing in this city would ever move forward.

Untuk Barista Kota: Saya paham maksudmu. Tapi kalau kita menghentikan konstruksi tiap kali mesin kemasukan debu, nggak bakal ada yang berkembang di kota ini.

Urban Optimist with a Permit (Pemimpi Kota dengan Izin Membangun)
Y’all are so busy complaining about dust and detours, you’re missing the big picture: this is how cities get better. No pain, no gain. And in ten years, you’ll be thanking the engineers you’re cursing today.

Kalian semua terlalu sibuk ngeluhin debu dan jalan putus, sampai lupa pada gambaran besar: beginilah cara kota jadi lebih baik. Tanpa kerja keras, nggak ada hasil. Dan dalam sepuluh tahun, kalian bakal berterima kasih ke para insinyur yang sekarang kalian makian.

Commuter Dad with Two Kids and Zero Patience (Ayah Commuter dengan Dua Anak dan Tanpa Sabar)
Urban Optimist, I’d love to 'thank the engineers' — right after they reimburse me for 300 gallons of gas and 200 hours of my life stuck in traffic.

Pemimpi Kota, saya sih mau aja 'berterima kasih ke para insinyur' — setelah mereka mengganti 300 galon bensin dan 200 jam hidup saya yang terjebak macet.