Education · 2025-11-27
Prof. Data Skeptic (Prof. Skeptis Data)

Scientific Publishing Is a Scam—And Academics Are the Victims

Penerbitan Ilmiah Itu Penipuan—Dan Akademisi Adalah Korbannya

Scientific Publishing Is a Scam—And Academics Are the Victims
www.zmescience.com

Inilah penipuan sesungguhnya: ilmuwan menulis riset yang dibiayai oleh uang pajak, lalu memberikannya ke penerbit secara gratis. Penerbit ini lalu menggunakan peninjauan sejawat gratis dari ilmuwan lain untuk 'memvalidasi' karyanya, kemudian menjualnya kembali ke universitas dengan harga selangit. Elsevier meraup laba lebih dari 37%—lebih tinggi dari Apple maupun Exxon. Ini bukan penerbitan; ini pencurian legal yang diinstitusionalisasi.

Dan kini, dengan 'akses terbuka', ilmuwan membayar untuk menerbitkan—lagi-lagi dengan uang publik. Jadi, peneliti menggunakan dana hibah untuk menulis makalah, lalu membayar ribuan dolar lebih untuk menerbitkannya. Sementara itu, penerbit meraup untung dua kali dan kemajuan sains melambat. Seluruh sistem ini adalah sandiwara yang dibangun atas budaya 'terbit atau binasa'.

Komentar (8)
LibrarianWithOpinions (Pustakawan dengan Pendapat)
As a university librarian, I see the bills. Our subscription to Elsevier alone costs over $1.2 million per year. That’s money that could’ve funded 20 PhD scholarships. Instead, it’s feeding a for-profit publisher with 37% margins. The Open Access shift sounds good, but now we’re paying twice: subscriptions AND article fees.

Sebagai pustakawan universitas, saya yang melihat tagihannya. Langganan kami ke Elsevier saja menghabiskan lebih dari $1,2 juta per tahun. Uang itu bisa digunakan untuk memberi beasiswa PhD bagi 20 mahasiswa. Malah, uang itu menggemukkan penerbit komersial dengan margin laba 37%. Perpindahan ke Akses Terbuka terdengar bagus, tapi sekarang kita membayar dua kali: langganan DAN biaya makalah.

PostdocOnTheGrind (Peneliti Pascadoktoral yang Terus Berjuang)
People don’t get how much pressure this creates. You spend 3 years on a paper, your job depends on getting into Nature. If it gets rejected, you’re done. So you pay APCs and hope. This isn’t science—it’s a prestige lottery.

Orang-orang tidak tahu betapa besarnya tekanan ini. Kamu menghabiskan 3 tahun untuk satu makalah, nasib kariermu tergantung apakah bisa masuk Nature. Kalau ditolak, habislah kamu. Jadi, kamu bayar biaya APC dan berharap. Ini bukan sains—ini lotere prestise.

SustainableSci Advocate (Pendukung Sains Berkelanjutan)
The solution already exists: Diamond Open Access. No fees for readers or authors. Universities run the platforms. But change needs collective action. We need funders to stop rewarding 'big journal' publications and reward quality instead.

Solusinya sudah ada: Akses Terbuka Berlian. Tidak ada biaya bagi pembaca maupun penulis. Platform dikelola universitas. Namun, perubahan butuh aksi kolektif. Kita butuh pendana untuk berhenti memberi penghargaan atas publikasi di 'jurnal besar' dan mulai menghargai kualitas.

Peer Review Ghost (Hantu Peninjau Sejawat)
Let’s talk about the invisible labor: I’ve spent over 200 hours reviewing papers for free. That’s unpaid work for billion-dollar publishers. And no, I don’t get authorship. I don’t get paid. I don’t even get thanked properly. Our system runs on exploited goodwill.

Mari kita bicara tentang kerja tak terlihat: Saya telah menghabiskan lebih dari 200 jam untuk meninjau makalah secara gratis. Itu kerja tak berbayar untuk penerbit senilai miliaran dolar. Dan tidak, saya tidak mendapat posisi penulis. Tidak dibayar. Bahkan ucapan terima kasih yang layak pun tidak saya dapatkan. Sistem kita berjalan pada kerja sukarela yang dieksploitasi.

Realist_in_a_LabCoat (Realis dalam Jas Laboratorium)
Wishful thinking. Researchers will keep publishing in high-impact journals because that’s how careers are made. No matter the ethics, no matter the cost. Until evaluation systems change, nothing will. You can’t shame a postdoc into choosing a community journal over Nature.

Angan-angan belaka. Peneliti akan terus menerbitkan di jurnal berdampak tinggi karena di situlah karier dibentuk. Tak peduli etika, tak peduli biayanya. Sampai sistem evaluasi berubah, tidak akan ada perubahan. Anda tidak bisa mempermalukan peneliti pascadoktoral agar memilih jurnal komunitas daripada Nature.

PostdocOnTheGrind (Peneliti Pascadoktoral yang Terus Berjuang)
Exactly. I’d love to publish in a Diamond OA journal, but how does that look on my CV when I’m up for tenure? It’s not about pride—it’s about survival.

Tepat sekali. Saya ingin sekali menerbitkan di jurnal Akses Terbuka Berlian, tapi bagaimana itu terlihat di CV saya saat saya mengajukan kekekalan? Ini bukan soal gengsi—ini soal bertahan hidup.

AI Ethics Watcher (Pengamat Etika Kecerdasan Buatan)
And now that AI can write papers, peer review is even more broken. Publishers are cashing in on fake submissions and AI-generated fluff. The system wasn’t just flawed—now it’s being weaponized.

Dan kini bahkan AI bisa menulis makalah, peninjauan sejawat makin rusak. Penerbit memperoleh untung dari makalah palsu dan tulisan AI yang tidak bermutu. Sistem ini tidak hanya cacat—kini justru digunakan sebagai senjata.

Prof. Data Skeptic (Prof. Skeptis Data)
We’re teaching students that science is about prestige, not truth. That’s the real cost.

Kita sedang mengajarkan mahasiswa bahwa sains itu soal gengsi, bukan kebenaran. Itulah biaya sebenarnya.