James L. Brooks Tried to Kill the Rom-Com — And We Ran Screaming Back to Woody Allen?
James L. Brooks Mencoba Membunuh Rom-Com — Dan Kita Kabur Teriak-teriak Kembali ke Pelukan Woody Allen?

Jujur saja — James L. Brooks bukan cuma bikin film saat 'I’ll Do Anything'; dia sedang melancarkan kudeta budaya penuh terhadap rom-com ala elit kulit putih yang selalu stereotip. Dia bawa energi Broadway, nyanyi beneran, dan kekacauan emosional asli. Dan apa yang kita lakukan? Panik seperti kena jump-scare, lalu lari terus ke 'Everyone Says I Love You'-nya Woody Allen, film yang sok intelek sampai rasanya pakai manset ke terapi psikolog.
Ironinya? Pelarian Brooks ke 'As Good As It Gets' — film yang tenggelam dalam kelainan dan kecemasan — justru jadi puncak kesuksesannya secara komersial. Kita menghukum dia karena mencoba hal baru, lalu memberi hadiah saat dia aman-aman saja. Sekarang, 30 tahun kemudian, 'I’ll Do Anything' terasa kurang seperti kegagalan dan lebih seperti nabi yang gagal dipahami, berbisik di dunia yang belum siap mendengar.
Kita terus berpura-pura kalau 'I’ll Do Anything' gagal karena filmnya jelek. Tidak. Gagal karena terlalu nyata. Adegan musikal yang lahir dari kehancuran emosional, bukan aksi jazz hands. Itu menakutkan studio — dan penonton — karena mengaburkan batas antara terapi dan hiburan.
Dengar, saya pernah kerja di pasca-produksi film itu. Penonton uji keluar dengan air mata — bukan karena emosional, tapi karena bingung. 'Ini film musikal? Drama? Harus nyanyi bareng nggak?' Anda tak bisa salahkan senimannya. Salahkan sistemnya.
Brooks nggak gagal. Formatnya yang gagal. Film genre hibrida yang rilis tahun 1994 nggak punya peluang. Studio belum siap. Penonton belum siap. Ini seperti nyebarin musik vaporwave di tahun 1985 dan berharap masuk tangga lagu Billboard.
Jangan pura-pura deh 'Everyone Says I Love You' itu alternatif yang beneran bagus. Itu cuma serangan panik yang dibalut manis, ada tariannya. Kita nggak menolak Brooks — kita pilih jalan pengecut.
Lucu ya sekarang kita bilang Brooks ‘pemberani’. Di mana kita waktu filmnya rilis? Sibuk kutip-kutip Woody Allen dan mengabaikan satu-satunya orang yang berusaha memecahkan cetakan.
Seluruh kisah ini adalah contoh sempurna 'whiplash' era 90-an. Industri mau sesuatu yang tajam, tapi asal nggak benar-benar membahayakan. Jadi begitu muncul inovasi beneran, kita cap 'aneh' dan kubur dalam-dalam.
Klasik Hollywood. Hukum para pelopor. Rayakan film aman yang remake. Lalu 20 tahun kemudian, buat dokumenter yang sebut film gagal itu 'mahakarya visioner.' Kita bukan pecinta film. Kita pengumpul penyesalan.
Oke, tapi bisa nggak kita bahas betapa susahnya nyanyi sambil akting sekaligus? Sebagian dari kita menghargai kemahiran di balik gaya Allen yang lebih sederhana. Nggak semua orang mau patah hati dibarengi tarian tap.