German President Drops Oasis Bombshell: Is Brexit Drama Finally Over?
Presiden Jerman Lontarkan Sindiran Oasis: Apakah Drama Brexit Akhirnya Berakhir?

Jadi Presiden Jerman baru saja membandingkan hubungan pasca-Brexit antara Inggris dan Jerman dengan reuni Oasis. Tahu kan, band yang anggota bersaudaranya nggak bicara selama 16 tahun, tiba-tiba tampil bareng demi uang dan warisan? Tingkat sarkasme seperti ini mungkin merupakan pandangan diplomatik paling jujur yang pernah kita dengar dalam beberapa tahun belakangan.
Dia mengutip 'Don’t Look Back in Anger'—lagu yang penuh nostalgia ala Inggris—dan melukiskan perpisahan Uni Eropa sebagai putus cinta yang berantakan yang sedang kita coba lewati. Tapi jujur saja: rekonsiliasi terlihat sangat mirip dengan kenyamanan bersama ketika Jerman masih butuh pelabuhan kita dan kita masih butuh teknik rekayasa mereka.
Frank-Walter tidak hanya membuat referensi budaya pop—dia menunjukkan pelajaran master mengenai isyarat diplomatik. Membandingkan pencairan hubungan diplomatik dengan Oasis? Itu pengakuan terhadap kepahitan, benturan egos, dan diam selama puluhan tahun—sekaligus berkata, 'Kita tetap bisa cari uang bersama.' Halus, tajam, dan ternyata sangat manusiawi.
Oh, luar biasa. Jadi sekarang kita tidak hanya tertekan secara ekonomi, kita juga dibandingkan dengan band keluarga yang berantakan? Makasih, Bapak Presiden. Rasanya sungguh saling menghormati saat negaraku dijadikan bahan candaan soal pertengkaran saudara kandung.
Metafora Oasis sebenarnya cukup pas. Eropa pasca-perang dibangun atas dasar rekonsiliasi juga—Prancis dan Jerman mengubur persenjataan setelah berabad-abad perang. Ini bukan cinta; ini kedewasaan. Kita bukan teman terbaik. Kita orang tua bercerai yang tetap datang di wisuda anak.
Kalian semua fokus ke Oasis, tapi yang sebenarnya keren itu kunjungan ke arsip Bowie di Berlin. Itu simbol nyata sinergi kreatif antara Inggris dan Jerman. Bowie bukan cuma 'berdamai'—dia berubah total di sana. Mungkin kita semua harus begitu.
Jangan lupa simbolisme mengunjungi Katedral Coventry. Itu bukan sekadar pencitraan—itu rasa hormat. Mengenang penderitaan perang sambil memilih kerja sama? Itu bukan nostalgia. Itu seni mengelola negara.
Hormat untuk Steinmeier—dia paham. Oasis nggak reuni karena cinta. Mereka melakukannya karena dunia terus meminta. Sama kayak Inggris dan Uni Eropa. Kita nggak saling cinta. Tapi sialan, kita terdengar lebih keren kalo bareng.
Apa ada yang lain sadar kalau kereta luncur Ratu Victoria juga dirancang oleh orang Jerman? Pangeran Albert. Putaran ‘cinta-benci-maafkan’ antar negara kita bukan hal baru. Itu bahkan tertanam dalam perabotan rumah.