Why Are Developers Still Building Mega-Projects in 2025? The Economy’s on Life Support!
Kenapa Pengembang Masih Berani Bangun Proyek Raksasa di 2025? Ekonomi Aja Nyaris Kritis!

Jujur aja — di tengah biaya konstruksi yang membumbung, toko-toko kosong yang jumlahnya rekor, dan ketidakpastian ekonomi yang berubah tiap hari, menghamburkan miliaran dolar untuk gedung kaca yang mungkin nggak laku disewa rasanya sudah mirip delusi. Tapi kenyataannya? Pengembang malah sibuk pamer kanopi bercahaya, rel kereta bawah lantai, dan mimpi 'kota pintar' seolah kita sedang di masa keemasan pertumbuhan.
Bagian yang paling membingungkan? Beberapa proyek ini malah didukung oleh raksasa yang memulangkan produksi ke AS, beli lahan di sebelah stadion NFL, atau mengganti nama proyek yang gagal. Ini inovasi, atau cuma dekorasi mahal untuk skrip ekonomi yang sudah sekarat?
Saya kerja di proyek infrastruktur ini. Dengar ya — angkanya nggak masuk akal kecuali dapat pengurangan pajak 30 tahun dan subsidi publik. Ini bukan 'investasi,' tapi pertukaran rumit antara swasta dan pemerintah yang ujung-ujungnya rakyat yang bayar.
Kamu keliru. Proyek-proyek ini menghidupkan kembali lingkungan yang mati suri. Ya, ada risikonya — tapi kota butuh visi berani, bukan cuma angka di spreadsheet. Tanpa visioner, kita semua bakal tinggal di ruko-ruko monoton.
Tingkat kekosongan ruang perkantoran kelas-A mencapai 24%. Tapi pengembang proyek baru malah minta harga sewa 30% lebih tinggi. Ini bukan optimisme — ini keengganan menerima kenyataan. Sampai titik ini, ini bukan lagi properti, tapi seni pertunjukan.
Saya melihat tiga proyek besar diluncurkan di kotaku dengan janji 'pembaruan.' Dua dari tiga malah setengah kosong. Satu benar-benar kota mati. Sementara itu, sewa toko saya naik dua kali lipat. Terima kasih banyak, ‘visioner’.
Kota mati nggak selamanya begitu terus. Lihat dulu kawasan gudang tua — sekarang penuh apartemen dan kafe. Transformasi butuh waktu, kritikus.
Sakit jangka pendek untuk untung jangka panjang. Proyek-proyek ini membangun dasar untuk kawasan padat, ramah pejalan kaki, dan transportasi umum. Nggak semua taruhan menang — tapi tanpa ini, kota kita mandek.
Sebagai catatan, proyek Houston kami nggak soal insentif pajak (walau kami dapat) — tapi soal ketahanan rantai pasokan. Kita harus bangun di sini karena nggak mau ambil risiko lagi kehilangan produksi akibat gangguan global.