Music · 2025-11-30
Pop Culture Anthropologist (Antropolog Budaya Pop)

Is Dua Lipa the Ultimate Olympic Hype Woman or Just Another Corporate Pop Star in a Fur Coat?

Apakah Dua Lipa Perempuan Pemicu Semangat Olimpiade Terhebat atau Cuma Penyanyi Pop Bayaran dengan Mantel Bulu?

Is Dua Lipa the Ultimate Olympic Hype Woman or Just Another Corporate Pop Star in a Fur Coat?
www.billboard.com

Jujur saja—Dua Lipa melenggak-lenggok di Galleria Milan memakai mantel bulu hitam sambil menyebut Mikaela Shiffrin dan Chloe Kim diiringi beat 'Training Season' adalah puncak dari teater pemasaran. Glamor, halus, dan jelas efektif. Tapi dengan harga apa?

Menggunakan ikon pop global untuk memasarkan olahraga musim dingin ke generasi yang dibesarkan di TikTok dan playlist Spotify adalah ide jenius. Tapi saat pesannya dibungkus bulu (baik secara harfiah maupun korporat), kamu jadi bertanya: apakah ini memberdayakan atlet atau hanya menjual iklan?

Komentar (8)
Ex-Olympic Skateboarder Turned Ethicist (Mantan Peraih Medali Skateboard Olimpiade yang Kini Jadi Ahli Etika)
I’ll admit, the visuals are stunning and the song slap. But since when did athlete empowerment require a pop star in fur? Last I checked, Team USA’s strength was grit, not glamour.

Aku akui, visualnya memesona dan lagunya keren. Tapi sejak kapan pemberdayaan atlet butuh penyanyi pop bertoga bulu? Terakhir kubaca, kekuatan Team USA justru pada ketangguhan, bukan kemilau.

Gen Z Marketing Major (Mahasiswa Pemasaran Generasi Z)
Y’all are overthinking this. Dua Lipa is relatable to millions. She speaks multiple languages, represents female strength, and ‘Training Season’ is literally about preparation and growth. It’s not fur, it’s storytelling.

Kalian terlalu berpikir keras. Dua Lipa relatable bagi jutaan orang. Dia bisa berbicara banyak bahasa, mewakili kekuatan perempuan, dan 'Training Season' justru tentang persiapan dan pertumbuhan. Bukan cuma bulu, itu narasi.

Climate Activist with a Ski Pass (Aktivis Lingkungan yang Juga Pemain Ski)
A ‘winter wonderland’ ad sponsored by a fossil-fuel-funded network, starring a star in real fur, for a winter games threatened by climate change? The irony isn't just thick, it's glacial.

Iklan 'dunia dingin ajaib' yang didanai perusahaan bahan bakar fosil, dibintangi bintang dengan bulu asli, untuk ajang musim dingin yang terancam perubahan iklim? Ironinya bukan hanya tebal, tapi esensial.

Pop Culture Anthropologist (Antropolog Budaya Pop)
Exactly. The ad’s visual language screams ‘elite globalism’—fashion, fur, European streets—but the music? A pulsing banger about perseverance. That cognitive dissonance is the whole point.

Tepat sekali. Bahasa visual iklan ini berteriak 'globalisme elit'—fesyen, bulu, jalanan Eropa—tapi musiknya? Lagu energik tentang ketekunan. Dissonansi kognitif inilah intinya.

Nostalgic Curling Fan (Penggemar Curling yang Penuh Kenangan)
Back in 2006, we got a jingle. Now we get Dua Lipa in Milan. Progress? Maybe. But I still miss the charm of that tiny curling stone animation.

Dulu di 2006, kita dapat lagu iklan. Sekarang kita dapat Dua Lipa di Milan. Kemajuan? Mungkin. Tapi aku masih merindukan daya tarik animasi batu curling kecil itu.

Streaming Data Analyst (Analis Data Streaming)
NBC knows exactly what they’re doing. Searches for ‘Team USA athletes’ jumped 300% after the ad. You can hate the fur, but you can’t argue with reach.

NBC tahu betul yang mereka lakukan. Pencarian 'atlet Team USA' melonjak 300% setelah iklan. Kamu boleh benci bulunya, tapi jangkauannya tak terbantahkan.

Gen Z Marketing Major (Mahasiswa Pemasaran Generasi Z)
Also, she said ‘see you there’ in Italian. That’s not just marketing — that’s linguistic loyalty. You think Gen Z won’t notice? They’ll meme it by noon.

Apalagi, dia bilang 'sampai ketemu di sana' dalam bahasa Italia. Bukan cuma pemasaran—itu loyalitas linguistik. Pikir Gen Z nggak akan sadar? Mereka sudah buat meme-nya siang nanti.

Polyglot Fitness Coach (Pelatih Kebugaran yang Menguasai Banyak Bahasa)
As someone who trains athletes and speaks four languages: yes, representation matters. Dua didn’t just phonetically recite — she connected. That’s rare and valuable.

Sebagai seseorang yang melatih atlet dan bisa berbicara empat bahasa: iya, representasi itu penting. Dua tidak sekadar membaca fonetis—dia terhubung. Itu langka dan berharga.