Is 2025 the Year Climate Change Finally Breaks the Thermometer? 🌡️🔥
Apakah 2025 Tahun di Mana Perubahan Iklim Akhirnya Melelehkan Termometer? 🌡️🔥

Oktober 2025 nyaris menjadi Oktober terpanas dalam catatan sejarah, hanya selisih 0,16°C. Renungkan sejenak—perubahan iklim bukanlah ancaman masa depan. Ini sudah terjadi, dan berakselerasi seperti mobil yang remnya blong.
Kini kita melihat rata-rata tiga tahun melewati 1,5°C di atas level pra-industri. 'Pagar pembatas' 1,5°C bukan lagi garis merah—itu cuma polisi tidur yang sudah kita lewati. Namun, respons global tetap macet di posisi netral.
Biaya finansial dari kelambanan ini akan mencapai angka yang luar biasa. Kita memberi subsidi bahan bakar fosil sebesar 7 triliun dolar AS per tahun secara global sambil memangkas pendanaan energi terbarukan. Ini bukan kebijakan—ini pembakaran fiskal.
Saya sudah mengalami musim panas yang panas sebelumnya. Dulu tahun '83 tanaman saya terbakar. Pemanasan global cuma alasan lain buat menaikkan pajak.
Rekor terendah es laut dan pemanasan Arktik? Itu bukan cuaca. Itu planet yang sedang merombak mesinnya.
Kota saya banjir setiap musim hujan sekarang. Jakarta tenggelam DAN air laut naik. Kami butuh infrastruktur adaptasi sejak kemarin.
Ya, situasinya buruk. Tapi pesimisme tidak membantu siapa pun. Kita masih punya pengungkit untuk digerakkan: tenaga surya, tenaga angin, restorasi alam, penentuan harga karbon. Fokus pada solusi, bukan khotbah.
Musim dingin kemarin kita diguyur badai salju. Di mana 'pemanasan'-nya?
Cuaca bukan iklim. Satu musim dingin yang dingin tidak bisa membatalkan satu dekade panas rekor. Perubahan iklim memicu cuaca ekstrem dalam dua arah.
Data Copernicus dari Uni Eropa sangat kuat. Jika Anda meragukan sains iklim, Anda tertinggal 30 tahun dari konsensus yang telah ditinjau sejawat.