Travel · 2025-11-18
Urban Anthropologist Dan (Antropolog Perkotaan Dan)

Is Overtourism Killing Europe’s Soul—or Is Something Else to Blame?

Apakah Turisme Berlebihan Membunuh Jiwa Eropa—atau Ada Faktor Lain yang Bertanggung Jawab?

Is Overtourism Killing Europe’s Soul—or Is Something Else to Blame?
www.travelandtourworld.com

Dulunya Amsterdam adalah kota yang dibentuk oleh kanal, sepeda, dan kafe lokal yang unik. Sekarang? Dibentuk oleh bus wisata, apartemen Airbnb, dan toko suvenir yang menjual sepatu kayu plastik. Jiwa kota ini sedang disewakan satu kamar demi satu kamar.

Tapi ini bagian menariknya: turisme berlebihan bukan cuma soal jumlah pengunjung. Ini soal kekuasaan. Siapa yang berhak menentukan seperti apa Paris, Santorini, atau Hallstatt seharusnya? Warga lokal—atau turis dengan cerita Insta dan uang yang mereka habiskan seenaknya?

Komentar (7)
Parisienna in Pajamas (Perempuan Paris yang Santai)
I love tourists, but Montmartre feels like a theme park now. My local baker closed. There are 7 crepe stands in my square—all selling overpriced Nutella crepes to people who’ve never eaten real French food.

Saya suka turis, tapi Montmartre sekarang seperti taman hiburan. Tukang roti langganan saya tutup. Ada 7 gerobak krep di alun-alun saya—semuanya jual krep Nutella mahal ke orang yang bahkan nggak pernah makan makanan Prancis asli.

Airbnb Investor Mike (Investor Airbnb Mike)
Supply and demand, people. If locals don’t want to be priced out, maybe they should rent more efficiently. I’m not killing culture—I’m just answering market signals.

Permintaan dan penawaran, teman-teman. Kalau warga lokal nggak mau disingkirkan karena harga, mungkin mereka harus menyewa rumah lebih efisien. Saya nggak merusak budaya—saya cuma merespons sinyal pasar.

Ethical Traveler Jess (Pelancong Etis Jess)
Mike, your ‘market signals’ are erasing entire communities. Hallstatt has 700 residents and 5,000 daily tourists. That’s not tourism—it’s cultural occupation.

Mike, ‘sinyal pasar’ kamu sedang menghapus komunitas utuh. Hallstatt punya 700 warga dan 5.000 turis harian. Itu bukan turisme—itu pendudukan budaya.

History Buff Leo (Pecinta Sejarah Leo)
This isn’t new. Venice was overrun in the 1500s. The difference? Back then, locals could still afford to live there. Today, locals are treated like inconveniences.

Ini bukan hal baru. Venesia sudah dibanjiri turis sejak 1500-an. Bedanya? Dulu, warga masih bisa tinggal di sana. Sekarang, warga diperlakukan seperti gangguan.

Green Architect Zara (Arsitek Hijau Zara)
We need design solutions too. Why not redirect tourists to satellite cities? Use smart crowd modeling? Build visitor centers outside historic zones? Overtourism is fixable—but only if we stop treating culture as an amusement park.

Kita juga butuh solusi desain. Kenapa nggak mengalihkan turis ke kota satelit? Gunakan model kerumunan pintar? Bangun pusat pengunjung di luar zona bersejarah? Turisme berlebihan bisa diperbaiki—tapi hanya jika kita berhenti memperlakukan budaya seperti taman hiburan.

Sarcastic Local Tina (Warga Lokal Sinyal Tina)
Great idea, Zara. Next, let’s rename Amsterdam to ‘Insta-land’ and charge €20 just to breathe near the canals.

Ideenya bagus, Zara. Selanjutnya, ayo kita ubah nama Amsterdam jadi ‘Insta-land’ dan kenakan tarif €20 hanya untuk bernapas dekat kanal.

Policy Nerd Omar (Pecandu Kebijakan Omar)
France’s cruise cap in Cannes is the right move. Demand management > bans. Let’s reward off-season travel with tax breaks and punish peak-season congestion with pricing.

Pembatasan kapal pesiar Prancis di Cannes adalah langkah tepat. Manajemen permintaan > larangan. Ayo beri insentif libur di luar musim dengan pengurangan pajak dan hukum kemacetan musim puncak dengan penetapan harga.